ini adalah posting seri kedua tentang pengalaman mudik saya. Kalo mau baca seri sebelumnya, baca tradisi mudik seri pertama
sore harinya pada saat idul fitri, saya berniat pergi ke pasar swalayan bersama beberapa saudara. Waktu itu saya dan adik saya memang sudah berjanji akan membelikan Bayu dan Lia baju. Berangkatlah saya, adik saya, mbah kecil, mas Soni, Lia, Bayu dan Lik Sar. Awalnya kami berniat pergi ke Pasar Purbalingga. Karena tidak tahu situasi di sana, ternyata Pasar Purbalingga tutup total. Tidak seperti di Jakarta di mana saat Idul Fitri tetap ada beberapa toko di pasar yang tetap buka. Bingung akan kemana akhirnya kami pergi ke sebuah swalayan yang ada di Alun-alun Purbalingga.
monumen kelahiran jend sudirman purbalingga Patung jendral sudirman purbalingga puisi peringatan wafatnya jendral sudirman 2010 tradisi mudik di indonesia
Tags: alun-alun purbalingga, idul fitri, pulang kampung, soto sokaraja
Sebelum saya mulai postingan ini, ada baiknya saya ucapkan
Selamat Idul Fitri 1430H
Minal aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir Batin
Rasanya ucapan itu sedikit telat, karena idul fitri sudah lewat 1 minggu yang lalu. Maklum saja, selama 1 minggu lebih saya tidak bisa mengakses blog ini untuk membuat postingan dari sony ericsson k630i saya. Paling saya cuma update status facebook, twitter dan plurk saja dari handphone. Tidak lupa mengecek email gmail saya. Rasanya sangat sulit membuat postingan dari sony ericsson k630 itu.
Selama 1 minggu saya tidak membuka internet lewat laptop zyrex saya karena laptop itu saya titipkan kepada rizky amalia sementara saya mudik ke kampung halaman. Saya pulang kampung ke Purbalingga, Jawa Tengah. Berangkat tanggal 18 september dari Karang Tengah, Tangerang dan sampai lagi di Karang Tengah 23 september 2009
bagi sebagian besar warga indonesia, mudik ke kampung halaman pada saat lebaran merupakan sebuah tradisi. Orang yang bekerja di luar kampung halamannya, menyempatkan diri kembali ke kampung halaman untuk berlebaran dengan orang tua dan sanak saudaranya. Tapi tidak demikian dengan saya dan keluarga. Saya sekeluarga tidak pernah mudik saat lebaran. Baru tahun ini kami ke kampung halaman pada saat lebaran.
Kali ini yang ikut adalah saya, ibu, adik dan saudara sepupu. Kami berangkat dari Karang Tengah pada hari jumat, 18 september jam 8 malam karena adik saya baru libur hari sabtu. Hari jumat itu pun, saya dan cintaqu harus menjemput adik saya di Bekasi. Dan pada hari jumat itu kami sudah mendapatkan kabar bahwa lebaran 1430H jatuh pada hari minggu. Tapi masih belum pasti karena menunggu pengumuman dari Departemen Agama RI
Terakhir kali saya pulang kampung pada saat saya masih duduk di bangku SMP, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Tentunya sudah sangat lama sekali. Itupun bukan pada saat lebaran. Dulu biasanya saya berangkat dari Karang Tengah jam 5 sore dan sudah sampai di purbalingga sekitar jam 4 pagi. Jadi saya pikir, kali ini saya akan sampai pada sabtu pagi. Ternyata perkiraan saya meleset. Mobil yang kami tumpangi rencananya akan lewat jalur pantura. Tapi ternyata jalur pantura ditutup karena sangat macet. Terpaksa lewat jalur selatan. Jalur selatan juga macet. bahkan dari jam 4 pagi sampai 6 pagi mobil sama sekali tidak bisa jalan di daerah Cikamurang. Pengguna mobil turun dari mobilnya dan ada yang bersantai di jalan. Bahkan ada juga yang tertidur. Ternyata penyebab kemacetan ini adalah karena ada mobil yang nyerobot ke jalur kanan. Otomatis tidak bisa jalan karena tidak ada yang mau mengalah. Perjalanan masih sangat jauh, padahal jika bukan lebaran, kami sudah sampai di purbalingga.
tradisi mudik di indonesia tradisi idul fitri kartu ucapan idul fitri untuk nenek dan kakek mengapa orang harus mudik di saat lebaran tradisi indonesia saat lebaran tradisi mudik mudik
Tags: kampung halaman, mudik, pulang kampung, ucapan idul fitri